Cerita Hantu Seram, Misteri Menakutkan dan Aneh

01/03/2021 by No Comments

Cerita Hantu Seram, Misteri Menakutkan dan Aneh

Cerita Hantu Seram, Misteri Menakutkan dan Aneh

Halo semuanya, selamat mampir di ceritaihsan.com. Kali ini aku akan membawakan tema perihal cerita hantu. Cerita-cerita seram yang akan membuatmu merinding dan bertanya-tanya, apa benar hantu itu ada. Saran membuat kalian, jangan baca ini pada malam hari, karena semua yang terpampang di sini berasal dari sebuah kisah nyata, mungkin juga sanggup menggentayangi kalian ..
Pasang Bola
Biar malah berkah, jangan lupa baca basmallah pernah sebelum membaca..
Bismillahirromanirrohim.. 🙂

Kisah Nyata berasal dari Cerita Hantu
Saya ingatkan sekali lagi, jangan baca kisah Hantu nyata ini pada malam hari.

Cerita Hantu Misteri

Cerita Hantu Gayung

Pada malam hari di pondok putri Al-Ishlah Bondowoso Ada seorang anak perempuan hendak menghendaki berak, tapatnya jam sembilan malam. Waktu itu sesungguhnya semua anak telah beranjak tidur, namun karena paksaan biologis, maka anak perempuan tersebut pun menekatkan diri untuk pergi sendirian ke kamar mandi.

Biasanya jam telah larut layaknya itu, murit tidak boleh keluar, apalagi sendirian. Kadang juga bawa anak lain sebagai rekan biar gak sendirian kala keluar asrama. Tapi sekali lagi, paksaan berasal dari didalam tubuh lah yang membawa dampak dia nekat dan tidak pandang kondisi.

Jam 9.00 itu kala yang telah memadai malam, amat malahan. Karena di area itu, di area pondok tersebut adalah area di mana jauh berasal dari warga, memadai jauh. Wilayah kira-kira adalah sebuah sawah yang di tanami oleh pohon-pohon rindang.

Tidak ada lampu jalan maupun kendaraan yang melintas. Di pondok tersebut, keadaan amat gelap gulita dan amat jarang juga ada kendaraan yang melintas. Mau kemana orang lain jikalau lewat jalan ini, jikalau jikalau dia menghendaki mampir di pondok tersebut.

Perempuan itu pun sedikit berlari terbilit-bilit karena saking kebeletnya.

Jika kamar mandi itu ada di didalam asrama, mungkin akan lebih memudahkan dia untuk pergi, namun ini bukan. Dia wajib keluar berasal dari asrama sendirian dan lewat lapangan yang gelap untuk pergi ke kamar mandi tersebut.

Dia lewat lapangan tersebut berasal dari pinggir. Mungkin sesungguhnya tidak amat jauh, namun telah memadai untuk membawa dampak bulu kuduk merinding. Lampu yang tertera hanya ada di depan kamar asrama dan di depan kamar mandi yang hendak ia tuju.

Dia menuju lampu yang hanya keluar di depannya tersebut.

Ada dua kamar mandi yang berhimpitan di pondok itu. Dua kamar mandi tersebut menghadap utara, lalu ada sedikit area kecil di depannya yang biasa digunakan untuk membersihkan busana para santri.

Masuklah perempun itu di kamar mandi sebelah timur.

Dalam kamar mandi itu terpadat tembok yang menyekat antara satu kamar mandi ke kamar mandi satunya lagi. Lalu di sedang tembok yang menghalangi dua kamar mandi tersebut terdapat lubang yang tidak amat besar, dan juga tidak amat kecil. Cukup untuk memindahkan sebuah benda berupa, sabun, peralatan mandi dan sebagainya.

Sebelum masuk kamar mandi, perempuan itu mendapati ada seseorang yang mandi di sedang malam mencemkam itu, di kamar mandi sebelahnya, barat.

Perempuan itu pun tak peduli. Dia langsung masuk dan buang hajat. Terpikir dibenaknya, siapa ya yang mandi malam-malam begini. Tapi perempuan itu tetap fokus bersama dengan apa yang dia melakukan kala itu.

Bulu kuduk perempuan itu mulai berdiri satu sama lain.

Jeeburr.. Jeburr.. Jeburr..

Suara air orang mandi itu tidak wajar, sepertinya dia menghendaki buru-buru selesaikan mandinya. Dia mandi bersama dengan cepat sekali, entah berapa ember telah yang dia habiskan.

Waktu konsisten berjalan, selama perempuan itu berdiam selesaikan hajatnya, selama itu juga orang yang mandi tersebut mandi bersama dengan amat terburu-buru.

Rasa takut mulai menyelimutinya.

Saat hendak cebok, perempuan itu mengambil alih sabun dan memandang bak air yang ada di sana. Di dapati ternyata, dia tidak mengerti jikalau gayung yang biasa membuat mengambil alih air itu tidak ada.

Bagaimana caranya cebok jikalau gayungnya tidak ada?

Akhirnya bersama dengan memberanikan diri, perempuan itu bersama dengan nada sebiasa mungkin untuk meminjam gayung berasal dari kamar mandi sebelah. Berkatalah perempuan tersebut,

“Baraaatt… Baraaattt… Pinjem gayungnya dong …”

Seketika itu, orang yang mandi disebelahnya langsung berhenti total. Tidak ada ulang nada cipratan air yang terdengar di sana.

Lalu ada nada laki-laki yang keras, tinggi ulang menggelegar menjawap permintaan berasal dari perempuan tersebut ..

“JANGANKAN GAYUNG, KEPALA AJA NGGAK PUNYA ..”

Seketika itu perempuan itu berlari keluar berasal dari kamar mandi dan pergi ke menuju asrama sambil menjerit ketakutan.

Sesampai di asrama, semua anak yang ada di pondok perempuan itu bangun dan terkaget mendapati salah satu temannya yang berjongkok menangis ketakutan. Para santri tersebut juga kaget karena temannya belum mengenakan celana. Di dekaplah perempuan tersebut bersama dengan rasa risau lalu ditanyai kenapa. Tapi perempuan tersebut tetap tetap menagis tergeru-geru.

-Tamat-

Cerita ini aku dapatkan berasal dari rekan aku yang kakak perempuanya sendiri yang mengalami kisah ini kala berapa di pondok tersebut pernah pas tetap dibangku SMA.

Bagaimana menurut kalian, apa hantu gayung tersebut amat ada? tetap beranikah kalian pergi ke kamar mandi malam hari? ha.. haa..

Hantu Kepala Menggelinding

Banyak orang menyatakan bahwa Ma’had Al-Ishlah Bondowoso adalah pondok yang penuh bersama dengan makhluk halus. Contoh nyata layaknya yang dialami oleh temanku sendiri yang pernah pernah belajar podok tersebut.

Abdan namanya.

Awal kisah berawal berasal dari tugas jaga malam. Saat itu Abdan dan sebagian temannya diberi tugas jaga pondok pada malam hari. Ada yang di depan area masuk pondok, ada yang di belakang.

Di pintu depan, ada Abdan bersama dengan dua orang temannya yang sedang jaga bersama dengan duduk di kursi panjang. Melihat-lihat jalanan yang telah sepi sembari mengobrol.

Di seberang jalan ada lapangan luas yang biasa dibikin main bola oleh santri. Lalu di kiri jalan yang tidak amat jauh, terdapat pasar yang biasa anak santri beli jajan maupun kebutuhan pokok.

Jam menuntukkan 12, tibalah malam hari yang gelap gulita. Pada malam itu 3 anak yang jaga di depan, salah satu berasal dari mereka tidur. Abdan berada di sebelah kanan, rekan satunya tidur, nah rekan yang lain pergi ikut jaga di bagian belakang.

Alasannya sakit perut, dan menghendaki buang air. Akhirnya salah satu rekan yang ada di bagian depan disuruh untuk ikut berjaga di bagian belakang.

Saat itu juga Abdan jengkel saat ditinggal sendirian, yang satunya tidur, yang satunya ulang pergi. Jadi Abdan seoranglah yang tetap mengerti dan menjaga sekitar.

Temannya pun tak kunjung datang. Lalu orang yang tidur tadi bangun dan bilang jikalau dia sakit perut menghendaki ke WC.

Saat itu juga Abdan langsung menjemput temannya yang lama tidak ulang tersebut. Dihampirinya di bagian belakang dan menyuruh untuk ulang ke depan.

“Eh, balik. Di depan gak ada yang jaga.” kata Abdan.

Ada kira-kira empat orang di sana kala abdan menghampiri. Sepertinya temannya tadi yang izin telah ulang lagi.

Kembalilah Abdan dan satu orang temannya di segi bagian depan pondok untuk berjaga.

Abdan mulai kesal karena tadi temannya telah meninggalkannya didalam kala yang memadai lama. Akhirnya Abdan menghendaki sedikit mengasih pelajaran atas perbuatannya tadi, biar dia tau rasanya jaga sendirian malam-malam.

Seketika itu Abdan pura-pura tidur.

Abdan tidak tidur sungguhan, dia melirik temannya berkedap-kedip menghendaki memandang bagaimana reaksi temannya, sembari berkata didalam hati, “rasain tuh jaga sendirian. Emang enak!!”

Sejenak hening, namun kadang juga Abdan pura-pura mendengkur biar keluar tidur sungguhan.

Setelah sebagian menit, Abdan memperhatikan dia bersama dengan mata sipit, meminta dia tidak mengerti jikalau Abdan hanya pura-pura tidur. Namu, memandang temannya yang memandang ke depan lapangan bersama dengan pandangan kosong, membawa dampak Abdan lebih memperhatikan dia bersama dengan serius.

Tiba tiba raut muka temannya yang diterangi bersama dengan lampu jalan seadang itu, mengkerut. Lalu tangannya medekap menutupi wajahnya dan duduk keluar berasal dari kursi panjang yang ada di sana seraya orang ketakutan.

Abdan langsung berdiri bangung berasal dari tidur pura-puranya mendekati rekan yang ada di sampingnya itu.

“heh, kau tak apa-apa?” kata Abdan sambil memegang pundaknya.

Namun ternyata, tangisan menggeru-geru terdengar berasal dari muka yang ditutupinya.

Abdan pun langsung terperanjat, memandang temannya layaknya itu. Kiranya pasti ada yang menggoda temannya. Gak mungkin tiba-tiba dia menangis tanpa karena apapun.

Di sela-sela itu, rekan satunya yang berasal dari WC datang.

“ini kenapa kok sampe gini Daann..”

Suara temannya agak mengeras kala memanggil Abdan. Saat itu Abdan tidak mendengarkan panggilan berasal dari temannya, dia sibuk berada di seberang jalan bersama dengan berteriak-teriak di depan tempat tinggal kosong tua.

Ada tempat tinggal kosong tua tak berpenghuni di seberang jalan sebelum menuju ke sedang lapangan. Pindu dan jendela tumah itu tidak ada, menjadi siapa saja sanggup masuk. Abdan berapa pas di depan pintu masuk tempat tinggal bersama dengan berteriak-teriak sok jagoan.

“Woy SETAANN!! Kalo berani keluar loe.. Jangan godain temen gue.. Keluar loe,.. Dasar SETAN PENGECUT!!”

Puas bersama dengan tindakan heroiknya, Abdan ulang pada temannya. Dia tetap saja menutup mukanya dan menangis deras. Keduanya mengusahakan untuk bertanya apa yang berlangsung pada dirinya, kenapa sampai sebegitunya, namun dia tetap saja tidak berkenan membukanya.

Penasaran bersama dengan temannya yang cengeng banget, Abdan mengakses bersama dengan paksa mukanya. Ditariknya tangan yang menutupi itu bersama dengan keras. Namun temannya memadai kuat dan sama sekali tidak menghendaki mengakses wajahnya.

Dia juga dibujuk untuk pergi ke didalam pondok, pergi ke masjid agar sanggup menenangkan diri di sana. Namun jikalau dia keresahan terus-terusan begini, bagaimana dia jalannya.

Akhirnya bersama dengan paksa dia pegang tangannya kuat-kuat, dan mengakses tangan yang menutupi wajahnya. Saat di buka, muka rekan tersebut penuh bersama dengan air mata bercampur ingus di mana-mana.

Temannya kaget, “Sebegininya ya dia ketakutan”.

Lalu keduanya menggandeng temannya untuk pergi ke didalam masjid.

Saat jalan pun dia tetap tidak menghendaki mengakses matanya, membawa dampak dia kebentok tiang lampu yang ada di sana.

Setelah itu dia di giring ke didalam masjid. Di sana juga dia tetap menangis bersama dengan derasnya. Keduanya mengusahakan menenagkannya, namun tidak bisa. dia tidak menghendaki menjawab sama sekali. Dia hanya terus-terus saja menangis.

Akhirnya tidak ada jalan lain yang sanggup ditunaikan oleh ke dua rekan tersebut, jikalau memanggil ustadz pondok.

Datanglah ustadz tersebut pada malam hari itu bersama dengan sedikit khawatir. Di tenangin bersama dengan mendekap pundaknya bersama dengan sedikit memeluk.

“kenapa ada apa?”

Namun tetap saja sama, Anak itu konsisten saja menangis tidak memedulikan ustadznya. Lalu ustadz tersebut menyuruh untuk tidur saja. Kedua temannya juga disuruh untuk menemani anak tersebut sihingga dia sanggup tidur.

Pagi hari datang.

Ceritalah anak itu kepada temannya kenapa dia sampai menangis bersama dengan amat dan tidak menghendaki membebaskan tangan, apalagi mengakses matanya.

“Pada kala itu aku kan jaga malam sama Abdan, nah.. Abdannya tidur, aku jaga sendirian di sana”

Abdan yang mendengarkan kalimat tersebut mulai gak sedap sendiri, karena dia hanya pura-pura tidur.

“Nah kala itu juga ada tiga orang yang ulang kejar-kejaran berasal dari pasar. Mereka menuju lapangan dan main lari-larian, yang dua manusia berkaki kuda bersama dengan ekor panjang mengejar seorang temannya yang juga miliki kaki kuda yang lebih aneh bersama dengan tubuh manusia. Dia seolah-olah lari keresahan karena temannya yang mengejar itu mempunyai celurit.”

Suasana ruangan itu mulai sedikit mencekam.

“Lalu entah kenapa, mereka menuju ku. Aku tidak sanggup bergerak, aku memandang mereka tetap mengejar satu sama lain tiba-tiba, ada ratusan orang yang sama layaknya mereka mencukupi lapangan dan jalanan pas di depan mataku.”

Anak itu menghela nafas, lalu dilanjutnya,

“Dan anak yang di kejar itu tertangkap lalu dibikin rebutan bersama dengan tarik-menarik tangannya layaknya singa kelaparan. Sampai-sampai kepala anak itu putus dan menggelinding ke arahku, konsisten . . .

WHAAA!!

“Kepala itu mendelik dan menjulurkan lidahnya. Saat itu juga aku tidak menghendaki melihatnya lagi.”

Anak-anak yang ada di sana langsung keresahan mendengar cerita tersebut, disempurnakan ulang anak itu memeragakan bersama dengan sama juga layaknya apa yang dia lihat.

“Nah pas itu Abdan kan teriak-teriak di tempat tinggal kosong itu, entah kenapa padahal aku telah tutup mata, namun aku tetap sanggup memandang jikalau di sana itu tetap banyak orang-orang aneh itu, malahan mengelilingi si Abdan”

Abdan saat itu juga itu langsung merinding.

“Tau gitu juga gak berani aku mah. Haha..” kata abdan sambil tertawa.

Pada kala itu keadaan menjadi ceria kembali. Dari situ ada pelajaran yang sanggup diambil, bahwa kami wajib tetap berdoa didalam setiap kondisi, apalagi layaknya cerita di atas. Meminta dukungan agar tetap dilindungi berasal dari kejahatan musuh yang nampak, maupun tak nampak.

-Tamat-

Kunjungi Juga : Kumpulan Kisah Misteri

Cerita hantu di atas adalah kisah nyata yang di alami oleh rekan aku yang bernama Abdan Syakuro. Dia mendapati perihal itu kala tetap di pondok Bondowoso.

Sebetulnya untuk membawa dampak cerita meskipun itu genrenya horor, itu memerlukan sebuah unsur agar cerita itu menjadi utuh dan lengkap. Nah bagi kalian pengagum untuk membawa dampak sebuah cerita, maka kalian sanggup baca lebih didalam perihal unsur intrinsik.

Untuk saat ini memadai sekian dulu, jangan lupa tetap kunjungi web site kami karena sebisa mungkin akan ada info dan cerita-cerita menarik yang update setiap harinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *