Komunitas Seni Lune Teater Membuat Sebuah Pertunjukan

07/06/2021 by No Comments

Komunitas Seni Lune Teater Membuat Sebuah Pertunjukan

Lodestonetheatre.org – Termotivasi dari wujud Arjuna serta Srikandi dalam epik Mahabrata yang senantiasa ditafsirkan selaku pria serta wanita asli tanpa memandang kalau mereka mempunyai bukti diri kelamin yang berlainan, komunitas seni Lune Pentas membuat suatu pementasan pentas yang bertajuk“ Rectoverso”. Hidangan pentas ini dicoba di Bangunan Keelokan Miss Tjitjih, Jakarta Pusat pada Jumat, 28 Mei 2021.

Komunitas Seni Lune Teater Membuat Sebuah Pertunjukan

Hidangan pentas ini pula diadakan buat memeringati Hari Global Melawan Homofobia, Transfobia serta Bifobia yang diperingati tiap bertepatan pada 17 Mei. Peringatan ini awal kali dicoba pada 2004 buat menerangi kekerasan serta pembedaan yang dirasakan oleh banyak orang lesbian, gay, hemafrodit, transgender, intersex serta orang lain dengan arah intim, kelamin, bukti diri ataupun mimik muka, serta karakter seks yang beraneka ragam.

Rectoverso jadi hidangan pentas serta tari kontemporer kesatu dari komunitas“ Lune Pentas” yang ialah penggiat film, tari, nada serta pentas. Komunitas ini terdiri oleh sebagian mahasiswa serta alumni dari Institut Keelokan Jakarta, Universitas Kristen Arwah Berhasil serta London School of Public Relations Jakarta yang terletak di dasar lindungan Lune Management serta D. I. Y Academy& Foundation.

Tutur Rectoverso sendiri merujuk pada 2 halaman berhadapan yang diucap folium rectum serta folium versum dalam bahasa Latin. Contoh suatu laman novel yang terpisah pada bagian kiri serta kanan, bila diamati kedua bagian ini memanglah terpisah. Tetapi, bila kita membacanya dengan cara totalitas, pasti dampingi lembar bagian kiri serta kanan mempunyai satu kesatuan ataupun ikatan yang utuh.

” Banyak orang menghabiskan hidupnya dengan perasaan hampa serta tidak utuh setelah itu mencari perihal buat memuat kekecewaan itu dengan suatu yang dipaksakan. Tetapi, tidak sempat terpikir bila yang kita rasa tidak utuh itu merupakan suatu rectoverso. Maksudnya kita cuma butuh mengganti perspektif mengenai bumi serta diri kita buat jadi lebih utuh,” ucap Hadi berlaku seperti perwakilan dari regu penciptaan pentas Rectoverso pada Liputan6. com, Sabtu, 29 Mei 2021.

Baca Juga : Teater Koma Gelar Festival Selama 4 Bulan

Wujud Srikandi yang dengan cara raga ialah seseorang wanita, nyatanya mempunyai kemampuan memanah serta ahli bertarung seperti seseorang pria. Sebaliknya, Arjuna selaku wujud pria ditafsirkan mempunyai tutur tutur yang santun serta halus dan batin yang lembut kolam seseorang wanita. Perihal inilah yang berupaya diperlihatkan lewat pentas Rectoverso, mengenai alangkah kompleksnya kepribadian serta asli diri seseorang orang.

Kepribadian Srikandi diwakilkan oleh seseorang figur bernama Stella yang ialah seseorang waria serta wujud Arjuna yang diwakilkan oleh figur Cinta yang ialah perempuan asli. Terbebas dari arah intim keduanya, Stella merupakan pria yang mempunyai watak dan berperforma selaku seseorang wanita sebaliknya Cinta merupakan wanita yang kuat serta kuat sebab wajib sanggup melampaui bermacam kasus dalam hidupnya

Tidak hanya 2 figur penting itu, ada sebagian figur lain dengan perkaranya tiap- tiap. Figur Sisca, ialah seseorang PSK yang nyatanya sepanjang menempuh profesinya senantiasa dihantui rasa bersalah. Alex, kekasih dari Cinta yang nyatanya seseorang hemafrodit serta cuma menghasilkan Cinta selaku pemuas hasrat.

Terdapat Marcel, seorang yang berterus terang selaku heteroseksual tetapi nyatanya sering melaksanakan ikatan akrab dengan seseorang waria. Figur terakhir merupakan Joe, seseorang pria dengan perawakan yang dingin serta gentlemen, tetapi nyatanya sesungguhnya merupakan seseorang gay serta menyayangi salah seseorang sahabat laki- lakinya.

Tidak cuma mengangkut rumor transpuan serta problematika kalangan kelamin minoritas di Indonesia yang banyak hadapi pembedaan serta penghakiman dengan cara sosial dari warga, pentas ini pula mangulas rumor lain. Terdapat kasus penggelapan yang dicoba oleh banyak orang berdasi serta insiden tenggelamnya Kapal KRI Nanggala 402 juga ikut jadi atensi.

” Diharapkan lewat seni pementasan ini bisa membagikan bimbingan dan pemikiran terkini untuk warga Indonesia hal rumor kelamin, transpuan serta feminisme,” tutup Hadi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *