Mengenal Teater Mamanda Rakyat Kalimantan Selatan

14/06/2021 by No Comments

Mengenal Teater Mamanda Rakyat Kalimantan Selatan – Mamanda adalah seni teater rakyat atau pertunjukan tradisional dari Kalimantan Selatan. Dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya, Mamanda lebih mirip Lenong dalam hal hubungan antara aktor dan penonton. Interaksi ini membuat pemirsa menjadi aktif dengan memberikan komentar lucu yang dimaksudkan untuk menghidupkan sesuatu. Bedanya, seni lenong sekarang lebih modern daripada seni Mamanda yang monoton dalam rangkaian cerita kerajaan. Karakter yang dimainkan adalah karakter standar seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan Kedua, Khadam (badut atau ajudan), Permaisuri, dan Sandut (putri). -Semua pertunjukan. Agar tidak mau kalah, karakter Mamanda seringkali dilengkapi dengan karakter lain seperti King of the Stranger, Pirates, Jin, Company dan karakter tambahan lainnya yang berperan untuk memperkaya cerita. .

Mengenal Teater Mamanda Rakyat Kalimantan Selatan

Sejarah

Asal usul Mamanda adalah kesenian Badamuluk yang dibawakan oleh rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka th. 1897. Dahulu sebuah teater di Kalimantan Selatan bernama Komedi Indra Bangsawan. Persinggungan kesenian lokal Banjar dengan komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut Ba Abdoel Moeloek atau lebih dikenal dengan Badamuluk. Kesenian ini selama ini lebih dikenal dengan sebutan Mamanda.

Baca Juga : Festival Helateater Salihara Hadir Tahun Ini

lodestonetheatre – Dari kehadiran kelompok bangsawan Malaka (1897 M) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan istrinya Cik Hawa di Tanah Banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat Banjar. Setelah adaptasi, teater ini memiliki teater baru yang disebut “Mamanda”.

Mamanda memiliki dua jenis listrik. Yang pertama adalah Sungai Batang Banyu yang terletak di bantaran sungai wilayah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering diincar sebagai Mamanda Pot. Yang kedua adalah Tubau yang dimulai pada Th. 1937 M. Aliran ini tinggal di wilayah Tubau, Rantau. Sering dipentaskan di wilayah daratan. Sungai ini dikenal dengan nama Mamanda Batubau. Sungai ini berkembang menjadi Tanah Banjar.

Perbedaan utama terletak pada inovasi pertunjukan. Dimana Mamanda Tubau lebih kekinian dengan zaman sekarang, namun tetap melestarikan lingkungan kerajaan yang menjadi ciri khas Mamanda. Kisah-kisah Mamanda Periuk sering dipentaskan, seperti hikayat Orang Miskin, hikayat Marakarna, hikayat Cindera Hasan. Sedangkan di Mamanda Tubau cerita yang disampaikan lebih bebas, terkadang cerita dibuat oleh sutradara.

Backing music dan lagunya sedikit berbeda. Sementara di Mamanda Periuk kami menggunakan lagu-lagu daerah, dan Mamanda Tubau terkadang memberikan pengalih perhatian pada lagu-lagu modern seperti Dangdut. Pakaian kerajaan tentu saja selalu disimpan oleh keduanya. Namun, bagi Mamanda Tubau, memilih pakaian kerajaan lebih mudah.

Pementasan

Di Teater Mamanda, para pemain dibimbing untuk berimprovisasi dan berdialog spontan dengan baik. Improvisasi harus membuat percakapan karakter tetap lancar dan tidak kaku.

Selain itu, ciri khas Mamanda lainnya adalah hubungan yang hangat antara aktor dan penonton. Di tengah pertunjukan, karakter terkadang menyapa penonton, memancing komentar lucu atau mengolok-olok mereka. Karena jika dilihat, Mamanda berasal dari sisi interaksi, seperti Lenong Betawi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *