Mubeng Beteng, Tradisi Ritual Menyambut Satu Suro di Yogyakarta

08/09/2021 by No Comments

Mubeng Beteng, Tradisi Ritual Menyambut Satu Suro di Yogyakarta Mubeng Beteng atau Topo Bisu Mubeng Beteng atau Mubeng Lampah Ritual adalah budaya lokal masyarakat Jawa di Yogyakarta. Tradisi ini merupakan salah satu daya tarik Yogyakarta yang kini ditetapkan sebagai warisan budaya nasional.

Mubeng Beteng, Tradisi Ritual Menyambut Satu Suro di Yogyakarta

Iodestonetheatre – Mubeng Beteng adalah ritual khusus menyambut awal tahun. Kalender Jawa (1 Suro) berjalan sekitar 4 km di sekitar Benteng Keraton Yogyakarta. Tradisi ini terbuka untuk semua orang, asalkan dilakukan terlalu pelan.

Ritual Mubeng Beteng Topo Mubeng merupakan cerminan kehadiran masyarakat Jawa di hadapan Sang Pencipta. Hal ini terungkap dengan mengorbit benteng dalam keheningan. Ini tidak sama dengan menyambut th. Orang-orang Yogyakarta, New Age yang umumnya memuaskan, menyambut satu slot malam lebih banyak dengan aksi tenang dan doa.

Baca Juga : Tari Kabasaran, Perihal Jalan Hidup Ksatria Minahasa

Keputusan 1 Suro malam umumnya mengacu pada Kalender Sultan Agungan, yang merupakan hari penting setelah th. Th dari tahun 1936. Pada tahun 2056, itu juga terdaftar di Keraton Yogyakarta. Konon, ritual ini bukanlah budaya yang diciptakan oleh keraton, melainkan sudah ada sejak abad ke-6 sebelum lahirnya Kerajaan Hindu Mataram.

Tradisi Mubeng Beteng yang dulu dikenal dengan Muser atau Munjer berarti jalan-jalan di tengah. Pusat masalah adalah pusat lokasi desa, yang telah diarahkan ke lokasi pusat kerajaan sejak munculnya kerajaan, dan normalitas muzer telah bergeser di sekitar pusat kerajaan. meningkatkan.

Pada masa Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede, tradisi Mubenbenten terlihat dalam kegiatan para prajurit yang ditugaskan untuk menjaga dan mengepung benteng untuk menjaga keraton. Kemudian, setelah kerajaan membangun parit di sekitar benteng, tugas selanjutnya diserahkan kepada abdi dalem istana.

Baca Juga : Tips Belajar Grammar dalam Bahasa Inggris 

Para abdi dalem merupakan hal yang wajar dalam memenuhi kewajibannya untuk berdiam diri sambil membaca doa dalam hati untuk mencari keselamatan. Sejak itu, kenormalan ini meningkat.

Suatu malam Suro menjadi malam Tirakatan. Salah satunya termanifestasi dalam kewajaran Mubenbenten yang diperankan oleh Abdidarem Keraton, dengan ribuan penduduk berkeliaran di benteng Keraton Yogyakarta dalam doa hening.

Pelaksanaan tradisi Mubeng Beteng

Ritual Mubeng Beteng Mubeng Lampah biasanya dimulai pukul 00.01 WIB ditandai dengan Lonceng Regol Keben Kyai Brajanala yang berbunyi 12 kali. Orang yang ingin mengikuti kewajaran ini biasanya berkumpul di pelataran Keben Keraton.

Di sini, Abdidarem menempati posisi terdepan dengan bendera dan bendera istana, pelita dan dupa Teprok. Orang-orang yang menghadiri acara ini berada di belakang Abdi Dalem, berjalan dengan tenang, tanpa makan atau merokok.

Pada perjalanan berikutnya, peserta diharapkan dapat melihat kembali apa yang telah mereka capai selama setahun terakhir dan berdoa untuk kebaikan untuk beberapa tahun ke depan.