Reog Kendang, Perpaduan Musik Kendhang dan Seni Jaranan

01/10/2021 by No Comments

Reog Kendang, Perpaduan Musik Kendhang dan Seni Jaranan Tari Reog Kendang Reog sebenarnya lebih terkenal sebagai rujukan kesenian Reog Ponorogo di Jawa Timur, namun nama-nama kesenian berikut ini juga berlaku untuk penamaan beberapa kesenian di daerah lain.

Reog Kendang, Perpaduan Musik Kendhang dan Seni Jaranan

lodestonetheatre – Di Jawa Timur, nama Reog juga digunakan dalam beberapa kesenian. Diantaranya ada beberapa yaitu Reog Cemandi dari Sidoarjo dan Reog Bulkio dari Blitar. Selain di atas, ada juga seni tari yang berasal dari Trungagun yaitu Tari Leog Kendan.

Baca Juga : Tari Sanghyang, Tarian Sakral Untuk Mengusir Malapetaka

Pada kenyataannya Reog Kendang sama dengan sekelompok penari yang menggunakan instrumen Tifa. Juga dikenal sebagai djembe, dalam bahasa Jawa dikenal dengan Kendan yang dipadukan dengan seni Jalanan.

Sejarah Tari Reog Kendang

Tarian Reog Kendhang dimulai dengan kedatangan Genblack di Trungagun dari Kerajaan Somoroto, Cowman dan Ponorogo pada masa penjajahan Belanda. Gen Hitam selanjutnya dikatakan sebagai pemain Kuda Lumping untuk kesenian Reog Ponorogo.

Mereka mampir ke Trungagun dan bekerja sebagai penambang marmer dan petani cengkeh. Untuk mengisi waktu luang selama beraktivitas, dibuatlah sejenis ketipun yang hanya mengenai satu sisi.

Selain itu, Ketipun Hitam Gen selanjutnya dan tabuhan gendang dipadukan dengan seni hiburan yang sudah terkenal saat itu, Leogkadiri (Jaranan). Dari situ terciptalah Tari Reog Kendan sebagai kesenian khas kota Trungagun.

Baca Juga : Sejarah Band Rock Uriah Heep | Inggris 

Melihat sejarah tari Reog Kendan yang awalnya digerakan oleh pemain logo Reog Pono, kesenian ini memiliki cerita yang hampir sama kronologisnya dengan cerita asal mula logo Reog Pono dan Jalanan.

Kesenian ini tergolong unik karena kronologi cerita yang dituturkan cenderung menceritakan kegigihan para prajurit Bantarangin yang melakukan perjalanan ke Kerajaan Daha. Ketekunan lebih terlihat pada pembawa gendang yang cukup lelah untuk membungkuk.

Dalam perkembangannya, ada versi lain dari kronologi cerita, yaitu versi letusan Gunung Kelud yang dibuat pada tahun 2014. Dalam versi ini, unsur gemblak dihilangkan karena dianggap tidak etis di lingkungan sosial.

Versi selanjutnya menggambarkan prosesi prajurit Daha yang menemani Ratu Kiristi ke Gunung Kelud. Perjalanan selanjutnya adalah melihat apakah Jatasura memenuhi persyaratan.

Tarian ini biasanya diiringi dengan iringan campuran perkusi terompet sari dan gamelan, seperti theron prette, gong, dan kenong. Namun pengiring berikut diusahakan tidak mengurangi suara kendang yang dibawakan oleh penari.

Dari segi pakaian, penari Kendan dan penari Kudakepan memakai pakaian yang sama dengan logo Leogpono Jatilan.