Tari Gambyong Ritual Padi dan Tarian Penyambutan, Jawa Tengah

14/08/2021 by No Comments

Tari Gambyong Ritual Padi dan Tarian Penyambutan, Jawa Tengah – Tari Gambyong merupakan salah satu tarian tradisional Jawa yang berkembang di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Surakarta. Awalnya, tarian ini merupakan seni yang dijadikan sebagai bagian dari ritual pertanian yang ditujukan untuk menanam padi.

Tari Gambyong Ritual Padi dan Tarian Penyambutan, Jawa Tengah

lodestonetheatre – Dewi Sri, yang dipercaya sebagai dewi pertanian, digambarkan sebagai penari penari dalam tarian ini. Tarian ini pun digunakan untuk memeriahkan resepsi pernikahan dan penyambutan tamu kehormatan dan negara.

Presentasi Tari Gambyong

Tarian Gambyong dalam pertunjukan selalu diawali dengan Gendin Pancourt. Salah satu daya tarik dari tarian ini adalah keselarasan antara gerak tari dan musik yang mengiringinya.

Baca Juga : Mengenal Tarian Dero Asal Sulawesi Tengah

Iringan adalah seperangkat gamelan Jawa yang terdiri dari gong, gambang, kendang, dan kenong. Di antara banyak instrumen yang diakui sebagai sumber tarian ini adalah gendang.

Secara umum, tarian ini terdiri dari tiga anggota: awal, isi, dan akhir. Atau dalam pengertian tari Jawa gaya Surakarta disebut makna bexan maju, bexan, bexan mundur.

Dari segi gerakan, tarian ini menitikberatkan pada gerakan kaki, lengan, badan dan kepala. Gerakan kepala dan tangan yang dikonseptualisasikan adalah fitur utama dari tarian Ganbyon. Selain itu, Eye View mengiringi atau melacak semua gerakan tangan dengan selalu melihat ke arah jari.

Gerakan kaki yang sangat serasi itulah yang membuat tarian ini terlihat indah. Gerakan anggun digambarkan sebagai karakter seorang wanita di Jawa Tengah.

Sejarah Tari Gambyong

Gambyong dulunya merupakan tarian milik rakyat, namun kemudian ditata ulang dan dibakukan oleh Keraton Surakarta Mankunegara. Kata Ganbyon sendiri jauh dari nama penari jalanan (Tredeck).

Baca Juga : Trik Mengasah Pronunciation Agar Seperti Native Speaker

Karena suaranya yang merdu dan gerak tarinya yang anggun, Ganbyon berada di wilayah Surakarta pada masa Sinuhun Pakbuono IV (1788-1820) hingga tarian yang dibawakannya disebut Tari Gambyong.

Sepanjang sejarahnya, presentasi Gambyong telah mengalami banyak pertumbuhan dan perubahan. Pada awalnya didominasi oleh kreativitas dan interpretasi penari dan penabuh dengan gerakan tari berdasarkan pola atau sejalan dengan musik gendang.
Dari pertumbuhan tersebut muncul beberapa varietas di luar keraton, antara lain Gambyong Sala Minulya, Gambyong Pangkur, Gambyong Ayun-ayun, Gambyong Gambirsawit, Gambyong Mudhatama, Gambyong Dewandaru, dan Gambyong Campursari.